Jumat, 08 Oktober 2010

Sejarah Ellyas Pical



Ellyas Pical

Saya ingat kalau nggak salah tahun 1985, waktu itu saya masih duduk di bangku SD kalau nggak salah kelas 4 atau 5, waktu itu nama Ellyas Pical atau kerap disapa Elly Pical, sungguh menjadi buah bibbir di mana2, pada saat itu Elly Pical berusaha merebut gelar juara dunia versi badan tinju dunia IBF, sekitar awal mei-lah kalau nggak salah, saat itu sebagai anak kecil saya sangat bangga melihat petinju Indonesia bisa mengalahkan petinju luar negeri dan meraih gelar paling terhormat. Euphoria terhadap Elly Pical membangkitkan semangat berolahraga bahkan mendorong semangat nasionalisme yang luar biasa. Pada saat itu nama Elly Pical separuh dewa, ia dipuja dan disanjung sebagai pahlawan yang telah mengharumkan nama bangsa, dalam ingatan saya waktu itu Elly Pical setelah meng-KO Judo Chun ia dibopong dan mengangkat tangannya sambil berteriak “beta menang…beta menang…!!! dan ada wajah ibunda Elly Pical, mama Ana menangis, juga promotor tinju legendaris Boy Bolang dan Manajer tinju Anton Sihotang.Jutaan mata orang Indonesia menatap kemenangan Ellyas Pical dengan segunung kebanggaan.

Ellyas Pical, seorang pemuda lugu yang lahir dan besar sebagai anak miskin (sebagaimana jutaan anak negeri ini) di Saparua, ia tidak melanjutkan sekolah karena faktor biaya, pekerjaannya tiap hari menyelam untuk mencari mutiara, kemudian ditemukan oleh seorang pencari bakat tinju dan dilatih tinju di Jakarta, singkat cerita jadilah ia petinju dengan hook dan jab tangan kanannya yang sangat kuat.Dan di tahun 1985 puncak kejayaan Ellyas Pical menjadi awal sebuah tragedi anak manusia.

Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan sebuah berita yang cukup memprihatinkan terutama bagi kalangan pecinta tinju di tanah air : Seorang mantan petinju kelas dunia tertangkap basah menyimpan obat-obatan terlarang bersama dengan rekannya. Tak dinyana ternyata dia adalah Ellyas Pical – Or Elly Pical, seorang Jagoan Tinju kita era 80-an yang sempat mengukir tinta emas sebagai seorang Juara Dunia Tinju yang dimiliki tanah air pada saat itu. Namun dari hasil pemeriksaan Kepolisian Elly hanya menjadi kambing hitam oleh Pengedar Narkoba sebenarnya. Sementara dia sendiri sebenarnya bukan pemakai, dengan kata lain dia hanya dititipin “sesuatu” yang ternyata jelas-jelas barang terlarang oleh Kepolisian. Dan Ironis : Profesi terakhir Elly ternyata menjadi Tenaga Security di tempat hiburan malam di mana Polisi melakukan razia dan akhirnya menimpanya.
Syukurlah Elly telah bebas dan bersumpah tak ingin bersentuhan dengan barang-barang terlarang itu lagi. Namun peristiwa ini setidaknya menambah catatan kelam masa depan para atlit negeri ini yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah ketika sudah pensiun dari arena olahraga yang membesarkan diri mereka.
OK-lah kita ga akan meneruskan tentang catatan kelam ini. Yang jelas nama Ellyas Pical telah terukir dalam tinta emas prestasi olahraga nasional. Nyong Ambon kelahiran Saparua 48 tahun silam ini telah menjadi pionir atau jalan pembuka bagi generasi penerusnya di cabang tinju untuk meretas asa ke jenjang kejuaraan dunia. Elly adalah juara dunia pertama yang dimiliki oleh negeri ini.
Bahkan boleh dikata Elly adalah Maestro tinju kita. Semenjak merebut gelar kelas Bantam Jr. versi IBF dari Judo Chun ( Korsel ), gelar itu telah dipertahankannya selama 4 tahun ( 1985 – 1989 ), di mana dalam rentang 4 tahun tersebut gelar juara dunianya sempat lepas 2 kali, namun berhasil di rebut kembali.
Nah berikut sekelumit rekor perjalanan Elly dalam kancah tinju dunia semenjak merebutnya di tahun 1985, mungkin bisa membangkitkan kembali ingatan kita dengan si kidal yang mematikan ini, karena hampir semua pertandingan Elly disiarkan secara langsung di televisi waktu itu.

1. Ellyas Pical VS Judo Chun ( Korea Selatan ) – Mei 1985 – MKO Ronde ke-8
Satu pukulan Upper Cut Elly Pical di ronde ke – 8 akhirnya membuat Judo Chun sang Juara Dunia kelas Bantam Yr. Versi IBF mencium kanvas ring Istora Senayan Jakarta. Wasit kelas dunia Joe Cortez asal Amrik secara refleks menghitung Chun : 1,….2,….3,….4 sampai hitungan ke-10 Judo Chun tak mampu bangkit untuk meneruskan pertandingan dan,…..yesss!!!! Istora Senayan “meledak”. Penonton di Istora maupun mereka yang menyaksikan dari Televisi kemudian hanyut dalam kegembiraan. Seorang Juara Dunia Tinju telah lahir dari Bumi Pertiwi ini. Kegembiraan yang sama juga dirasakan di Ambon dan Saparua kota Kelahiran Elly. Euforia pesta kemenangan Elly benar-benar terasa hampir di seluruh negeri ini.
Kebanggaan yang sama kemudian juga disyukuri oleh Presiden waktu itu – siapa lagi kalo bukan Pak Harto. Berkat kemenangan dalam pertandingan yang dipromotori oleh Alm. Boy Bolang itu tak hanya sabuk juara dunia saja yang diraih, penghargaan dari pemerintah maupun swasta yang bersifat materi juga berhasil didapat oleh Elly usai pesta kemenangan itu.

2. Elly Pical VS. Wayne Mulholland ( Australia ) – Agustus 1985 MKO Ronde ke-3
Tugas pertama Elly dalam mempertahankan gelar yang diraih : menghadapi jagoan asal Australia yaitu Wayne Mulholland di Jakarta.

Wayne sempat sesumbar akan menjatuhkan Elly di atas ring, ternyata sesumbar itu makan diri sendiri.
Elly berhasil merobohkan jagoan negeri kangguru itu di ronde ke-3. bahkan boleh dibilang inilah lawan paling ringan sang jawara dibandingkan Judo Chun.
Publik pecinta tinju tanah air kembali bergelora menyambut kemenangan Elly.

3. Elly Pical vs. Cesar Polanco ( Dominika ) – Januari 1986 Kalah Angka
Lawan terberat Elly, karena Republik Dominika terletak di wilayah Amerika latin yang memiliki kultur tinju yang kuat dan berkarakter.
Di pertandingan ini Elly benar-benar menemukan lawan yang sepadan. Cesar Polanco, petinju yang mahal senyum ini benar-benar memenuhi janjinya untuk pulang ke Dominika tidak dengan tangan kosong. Pergerakannya yang lincah dan pukulan-pukulannya yang efektif membuat jagoan merah putih kehabisan taktik.
Ketika pertandingan berakhir 15 ronde dan hasil diumumkan 2 juri memenangkan Polanco sementara 1 juri asal Indonesia jelas memenangkan Elly Pical.
Publik Istora dan pecinta tinju tanah air kecewa atas kekalahan ini. Sementara Elly yang baru saja lepas gelarnya sempat ngambek akan keluar dari sasana tempat dia bernaung. Terjadi ricuh internal dalam manajemen dan pengurus olahraga tinju akibat hasil pertandingan ini yang katanya disebabkan karena sang pelatih – Simson Tambunan salah strategi dan taktik.

4. Ellyas Pical vs. Cesar Polanco II – Juni 1986 – MKO Ronde ke-3
Ricuh internal berhasil ditangani dan diselesaikan dengan baik. Akibat kekecewaan publik tinju tanah air dan Ellyas Pical sendiri, maka disepakatilah bersama IBF pertandingan revans kontra Polanco.
Polanco kembali datang ke Jakarta untuk melayani tantangan Elly. Tapi di pertandingan ini Elly ternyata lebih siap dengan strategi yang lebih agresif. Saat ronde ke-3, akibat 1 pukulan telak Elly, tanpa disadari Polanco tiba-tiba terhuyung jatuh. Wasit kembali menghitung, jagoan Dominika ini ternyata tak sanggup melanjutkan pertandingan lagi. Senayan kembali bergelora. Elly berhasil merebut gelarnya kembali. Sabuk IBF kembali ke pangkuan bumi pertiwi.
Yang menarik, (mungkin masih ingat?) Hadirnya seorang tua misterius asal Dominika yang tiba-tiba naik ring dan menggoyang-goyangkan tali ring sebelum pertandingan dimulai. Menurut pengakuan Official Polanco, Pria yang bernama Alberto Qaquias ini adalah tim pelatih Polanco. Tapi belakangan baru diketahui bahwa si kakek tua Qaquias ini adalah dukun yang dibawa oleh Polanco. Walau bagaimanapun “dukun” Ellyas Pical tetap paling kuat, siapa lagi kalo bukan Tete Manis ( bahasa Ambon artinya : Tuhan ), ya ga,….hehehe

5. Ellyas Pical vs. Lee Dong Chun ( Korea Selatan ) – Nov. 1986 MKO Ronde – 10
Petinju Korea Selatan nampaknya sangat penasaran ingin mengalahkan Elly, salah satunya adalah Lee Dong Chun. Karena sepanjang rekor, tak satupun petinju negeri ginseng ini mampu menaklukkan si Kidal.
Dalam pertandingan yang digelar menjelang akhir tahun 1986 ini ternyata Nyong Ambon terhitung terlalu tangguh bagi Dong Chun. Dong Chun kembali jadi korban Upper Cut Sang Juara di Ronde ke –10, dan tak sanggup melanjutkan pertarungan lagi.

6. Ellyas Pical vs. Khaosai Galaxy ( Thailand )- Januari 1987 – KTKO Ronde 14
Keperkasaan Elly di Badan Tinju IBF, menjadi pertimbangan tersendiri bagi Elly untuk mencoba duel unifikasi ( penyatuan gelar dengan badan tinju lain ) di jalur WBA. Penasaran ingin menjadi Juara di jalur WBA, memaksa Elly harus bertarung kontra Jawara WBA tangguh asal Thailand yaitu Khaosai Galaxy. Pertarungan digelar di Jakarta. Sekedar diketahui Khaosai Galaxy adalah Juara tak terkalahkan. Berkarakter tahan pukul dan hampir semua lawannya dihabisi dengan KO maupun TKO.
Dan,….terbukti Elly ternyata tak sanggup menghadapi ketangguhan Galaxy. Di hadapan publik sendiri Pria Saparua ini benar-benar kehabisan akal untuk keluar dari tekanan Galaxy. Hampir sepanjang ronde berjalan jagoan negeri gajah putih ini mendominasi pertarungan.
Puncaknya,…tepat di ronde 14, akibat luka di pelipis sebelah kiri dan stamina yang sudah habis total menyebabkan perlawanan jagoan merah putih ini berhenti. Galaxi menang, sebaliknya pecinta tinju tanah air bersedih.
Namun galaxy mengakui bahwa ini adalah pertarungan terberatnya, dan patut dicatat bahwa Ellyas Pical adalah satu-satunya lawan Galaxy yang mampu memberikan perlawanan sampai di atas ronde 10. Gilaaaa Boooo,….
Sebagai konsekuensi dari kegagalan ini, gelar Elly di IBF pun dicabut,..gelar yang lowong ini berhasil direbut petinju Tae Il Chang dari Korsel. Aduh kasihan,…sudah jatuh tertimpa tangga pula…..

7. Ellyas Pical VS. Tae Il Chang ( Korsel ) – Okt 1987 – Menang Angka
Tak perlu terlalu bersedih dengan kegagalan, Ellypun berusaha bangkit untuk merebut gelar IBF demi kebanggaan Ibu Pertiwi.
Akhirnya Badan Tinju dunia ini merestui Elly untuk tampil mencoba merebut gelarnya yang saat itu dipegang oleh Tae Il Chang, karena kebetulan Peringkat Elly masih tercantum di IBF.
Berstatus sebagai penantang jelas memberikan beban yang ringan bagi elly. Sementara dengan Optimisme yang tinggi Il Chang sesumbar akan menjatuhkan petinju tuan rumah. Akhirnya dalam pertarungan yang digelar di Jakarta ini harapan dan doa masyarakat tanah air terkabul. Elly berhasil menemukan kembali semangat bertarung dan pola permainannya. Tae Il Chang dibuat kalang kabut dan sempat jatuh di ronde ke-14. Elly menang angka. Gelar IBF kembali ke genggaman Elly dan tanah air.


8. Ellyas Pical VS Raul Diaz ( Kolombia )- Maret 1988 – Menang Angka
Sekali lagi Elly harus menghadapi kekuatan tangguh dari Amerika latin tepatnya dari Kolombia. Lawan kali ini adalah petinju bertampang keren yaitu Raul Diaz.
Raul Diaz tak hanya lincah tapi juga licik di atas ring bahkan Overacting. Entah untuk memancing emosi lawan atau untuk apa. Pertandingan hampir berimbang. Namun kelicikan akhirnya berbuah celaka. Di Ronde 13, Diaz kecolongan, 1 pukulan telak Elly sempat membuat jagoan kolombia ini terkapar, namun karena stamina yang masih bagus akhirnya pertandingan habis sampai ronde 15. Elly pun dinyatakan menang angka mutlak.

Nah itulah tadi kilas balik beberapa pertarungan jagoan kebanggaan kita Ellyas Pical. Sebenarnya masih ada 2 pertandingan yang berikutnya, yaitu ketika berhasil mengalahkan petinju Korsel ( kalo ga salah namanya Kim Chang Ki ) menang angka, dan mengalahkan Petinju Amerika Serikat yang masih berusia belia yaitu Mike Pelps yang juga dimenangkan dengan angka di Singapura. Namun dalam 2 pertandingan ini nampak kalo stamina dan teknik-nya sudah menurun, mungkin karena faktor usia yang bertambah.
Akhirnya di tahun 1989, Ellyas Pical takluk oleh perlawanan Juan Polo Perez dari Kolombia dalam sebuah pertarungan perebutan gelar di Amerika Serikat. Kekalahan ini sekaligus menandakan pengunduran diri Elly dari gelanggang tinju dunia.
Sekali lagi Elly tetap menjadi salah satu Putra terbaik di negeri ini dari gelanggang olahraga tinju. Prestasi ini kemudian diikuti oleh Nico Thomas & M. Rahman di kelas terbang mini ( namun sudah lepas ), kemudian Juara dunia saat ini yaitu Chrisjon di kelas bulu versi WBA.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar